Pengukuran Masjid Istiqlal

Pada tanggal 29 Agustus sampai dengan 1 September 2019 telah dilakukan pengukuran Masjid Istiqlal oleh tim pengukuran dari Pusat Kinerja Bangunan dan Kota. Pengukuran dilakukan bertujuan untuk mengukur kondisi aliran udara agar bisa ditentukan tingkat kenyamanan termal di dalam Masjid.
Pengukuran dilakukan terhadap empat parameter:
  1. Suhu dan kelembaban
  2. Kecepatan udara
  3. Heat Stress
  4. Suhu Permukaan
Pengukuran dilakukan dalam dua kondisi:
  1. Kondisi normal
  2. Kondisi sholat Jumat (masjid penuh)
Garis Pengukuran: Garis A berada di depan Imam, Garis B di tengah, dan Garis C berada di shaf belakang.

1. Kondisi Normal

Tim pengukuran sedang memasang sensor dan data logger pada konfigurasi tiang (15 tiang)

A. Pengukuran Suhu dan Kelembaban

Pengukuran dilakukan di area masjid, terutama di ruang sholat utama. Alat ukur dipasang di garis melintang, sepanjang shaf. Terdapat tiga garis/shaf yang diukur bergantian setiap jam, (1) Garis A: garis/shaf bagian depan masjid, (2) Garis B: bagian tengah, dan (3) Garis C: bagian belakang.
Alat ukur ditempatkan di tiang kecil setinggi 3m, setiap tiang memiliki 5 sensor suhu dan kelembaban. Ada 15 tiang yang akan ditempatkan di sepanjang shaf. 
 
Pengukuran dilakukan mulai jam 07.00 sampai jam 20.00. Di setiap jam (menit 00) atau ketika sholat berjamaah, pengukuran dilakukan di Garis A. Setelah 20 menit, pindah ke Garis B. Dan setelah 20 menit, pindah ke Garis C. Untuk kemudian kembali ke Garis A pada jam berikutnya. 
 
Garis A harus disesuaikan agar bertepatan dengan shaf kedua ketika sholat berjamaah. Alat ukur ditempatkan di sepanjang shaf kedua agar suhu udara di tengah-tengah sholat berjamaah dapat terekam. Shaf ketiga dan seterusnya boleh dipakai seperti biasa. Menjelang waktu sholat, shaf kedua harus diamankan dengan memberi garis batas agar shaf kedua tidak dipakai.
 
B. Pengukuran kecepatan udara
Pengukuran aliran udara dilakukan di lima titik yang menjadi inlet udara ke dalam masjid. Posisi inlet adalah bukaan di sebelah kanan arah kiblat. Pengukuran akan dilakukan di tiga garis mengikuti pengukuran suhu, yaitu Garis A, B dan C. 
 
Di setiap garis, pengukuran dilakukan di lima titik, yaitu di lantai utama, balkon 1 sampai balkon 4. Semuanya di sisi kanan arah kiblat. 
 
Pengukuran di setiap titik dilakukan sebanyak dua kali. Pertama, tepat di bidang bukaan, di titik tengah bukaan tersebut. Kedua, sekitar 5m dari bukaan, pada ketinggian sejajar titik pertama. 
 
Pengukuran di setiap titik dilakukan selama 10 menit, sehingga dua titik dilakukan dalam 20 menit. Setelah 20 menit, dilakukan perpindahan garis, sinkron dengan pengukuran suhu. 
 
Khusus ketika sholat berjamaah dilaksanakan, maka pengukuran kecepatan udara dilakukan dilima titik di shaf kedua.
 
 

2. Kondisi sholat Jumat (masjid penuh)

Tim pengukuran sedang memindahkan sensor dari konfigurasi tiang ke konfigurasi cone untuk persiapan pengukuran selama sholat Jumat
A. Pengukuran suhu dan kelembaban
Alat ukur diletakkan di atas cone kecil (tingginya 20cm) dan diletakkan di depan shaf diberbagai lokasi di ruang sholat utama. Ada 15 data logger, setiap data logger akan dijaga oleh satu orang, dan didistribusikan merata di seluruh ruang sholat utama. Tiga data logger ditempatkan dalam satu shaf.
 
Setiap data logger terdiri dari 5 sensor. Kelima sensor diletakkan di jarak 5m dan 10m dari data logger ke arah kiri dan kanan. Total ada 75 cone yang akan disebarkan secara merata diseluruh area ruang sholat utama.
 
B. Pengukuran kecepatan udara
Pada sholat Jumat, pengukuran kecepatan udara dilakukan di dalam ruang sholat utama. Sensor kecepatan disebar di lima titik pengukuran. Pengukuran diambil dengan sensordiletakkan setinggi 20 cm dari lantai.
0 Comments

No Comment.