Kualitas udara Indonesia, dan kesehatan kita

Belakangan ini, dunia maya sedang tercengang dengan buruknya kualitas udara di Jakarta. Mulai dari warganet, pihak pemerintah, maupun badan-badan ahli turut berbicara dan menyuarakan pendapatnya mengenai masalah ini. Namun, perlu diketahui bahwa bukan hanya Jakarta yang kualitas udaranya buruk, tapi seluruh Indonesia. Buruknya kualitas udara bukan hanya berpengaruh kepada orang-orang yang beraktivitas di luar dan terpapar secara langsung, tetapi akan menjulur keseluruh aspek masyarakat di luar maupun di dalam, yang belum lahir, hingga yang sudah lanjut usia.

Sejak pertama peraturan mengenai kualitas udara diterbitkan pada tahun 1999, Indonesia telah mengalami revolusi industri yang sangat drastis. Namun hingga saat ini, peraturan tersebut belum ditinjau kembali, sedangkan peraturan-peraturan mengenai kualitas udara dalam bangunan terus diperbaharui. Walaupun didasari oleh peraturan tersebut yang sudah kuno dan tak lagi relevan, dengan banyaknya sumber-sumber polutan baru yang timbul dalam 20 tahun ini.

Dari laporan yang ditulis oleh Michael Greenstone dan Qing Fan, rakyat Indonesia pada umumnya akan kehilangan 1.2 tahun dari umurnya dikarenakan buruknya kualitas udara di Indonesia. Dengan dukungan dari The University of Chicago dan program Air Quality Life Index (AQLI), laporan yang berjudul “Indonesia’s Worsening Air Quality and its Impact on Life Expectancy” menuliskan bahwa udara Indonesia sudah melampaui batas wajar yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) yaitu 10 ug/m3, terutama untuk 9 dari 10 kota terbesar di Indonesia pada 2016, yaitu; Palembang, Jakarta, Tangerang, Bekasi, Depok, Medan, Semarang, Bandung, Surabaya, dan Makassar, dengan Palembang sebagai kota dengan kualitas udara terburuk, dan berurutan hingga Makassar.

Polusi udara yang menyelimuti Jakarta.
(Photo oleh Wendra Ajistyatama dari The Jakarta Post)

Di mata “angin topan” kualitas udara yang buruk ini, berdirilah PM2.5 yang menjadi pelaku utama terhadap berkurangnya angka harapan hidup maupun pengaruh-pengaruh kesehatan lainnya, ringan maupun berat. Berbagai studi telah memperkirakan bahwa kualitas udara berhubungan dengan angka harapan hidup, seiring dengan waktu, penelitian telah membuktikan dengan semakin buruknya kualitas udara dan tingginya kandungan PM2.5 pada suatu tempat, maka berkurangnya angka harapan hidup itu dari penduduknya akan semakin bertambah. Palembang yang menjadi kota dengan kualitas udara terburuk pada 2016, memiliki tingkat konsentrasi PM2.5 tertinggi akan kehilangan 4 hingga 5 tahun dari umurnya. Bergantung pada lokasinya, kontributor utama buruknya kualitas udara adalah industri-industri serta emisi-emisi kendaraan pada daerah kota dan pinggirannya. Sedangkan pada daerah perkebunan dan daerah agraris lainnya, pembakaran hutan dan lahan adalah sumber utama dari memburuknya kualitas udara.

Bila udara di lingkungan luar kotor, apa yang terjadi dengan udara di lingkungan dalam ruangan?

Pada daerah-daerah yang masih menggunakan bahan bakar kayu maupun arang, sumber utama polusi udara dalam ruangan adalah hasil pembakaran bahan bakar rumah tangga. Namun pada daerah-daerah, terutama bangunan-bangunan modern, sumber utama polusi ruangan adalah udara luar sekitar bangunan.

Udara di dalam ruangan selalu bercampur dengan udara luar, yang masuk secara diinginkan melalui sistem ventilasi, maupun secara tidak diinginkan melalui infiltrasi. Maka dari itu, kualitas dan keadaan udara di sekitar lingkungan ruangan sangatlah berpengaruh kepada kualitas udara dalam ruangan. Banyak penelitian telah menyatakan bahwa buruknya kualitas udara dalam ruangan berhubungan langsung terhadap timbulnya penyakit pada penghuni, dimulai dari asma hingga sindrom SBS (https://www.kinerja.org/b/sick-building-syndrome/), serta mengurangi produktifitas dan efisiensi kerja penghuni.

Kualitas udara dalam ruangan dapat dikendalikan melalui sistem ventilasi yang memadai serta manajemen dan pemeliharaan rutin sistem tersebut. Untuk bangunan-bangunan kecil seperti sekolah dan perumahan, sebuah filter udara dalam ruangan serta air purifier dapat digunakan untuk membantu mengurangi polusi udara tersebut. Namun, solusi tersebut hanyalah obat sementara untuk penyakit yang semakin parah bila tidak ditangani. Salah satu cara untuk mencapai penyelesaian masalah jangka panjang dari penyakit udara kotor di luar maupun di dalam ruangan.adalah pembuatan hukum dan regulasi yang tak hanya menyerang penyakit, melainkan mencegah dan mengurangi penyebab-penyebab penyakit tersebut. Dalam jangka panjang, regulasi dan dukungan pemerintah serta kesadaran masyarakat, adalah langkah pertama dalam menyelesaikan permasalahan udara kotor di Indonesia.

Silakan kontak kami untuk diskusi lebih lanjut tentang masalah ini.

1 Comments
Avatar for Kinerja
Kualitas udara Indonesia – Kinerja 1 August 2019
| |

[…] langsung terhadap timbulnya penyakit pada penghuni, dimulai dari asma hingga sindrom SBS (https://www.kinerja.org/b/sick-building-syndrome/), serta mengurangi produktifitas dan efisiensi kerja […]