Lima Aspek Bangunan Ini Baik untuk Mood dan Kesehatan Fisik

Ilustrasi (Foto: Caique Silva – Pexels)

Bangunan sangat erat kaitannya dengan suasana hati dan kesehatan penghuninya. Bahan bangunan, pencahayaan, ventilasi, hingga cara menggunakan ruangan menentukan kualitas hidup orang-orang di dalamnya. Pendekatan Health, Safety, and Welfare (HSW) merupakan salah satu hal yang mutlak ada pada bangunan dewasa ini.

Dilansir dari PDH Academy, para perancang bangunan memang tidak bertanggung jawab terhadap kesehatan penghuni di dalamnya. Namun, mereka bertanggung jawab atas desain yang mendukung kesehatan, dan keselamatan, dan kesejahteraan orang-orang di dalamnya. Oleh karena itu, American Institute of Architects (AIA) mensyaratkan enam pendekatan yang mendukung HSW tersebut, yaitu:

Kualitas Lingkungan

Aspek yang satu ini fokus pada usaha untuk meminimalkan polutan, baik yang baru maupun yang sudah ada. Saat ini, banyak desain bangunan yang seketat drum agar mampu meningkatkan efisiensi energi. Nyatanya, Vivian Loftness dari Ecobuilding Pulse menilai bahwa para penghuninya “terkunci dalam sup bahan kimia” yang kerap menyebabkan mereka berpenyakit.

Oleh karena itu, hari ini kebanyakan manusia lebih membutuhkan desain bangunan yang sehat dengan udara segar yang mengalir melalui ventilasi dengan bahan bangunan yang lebih sehat. Ini pula yang coba dirancang oleh Vivian dengan mendesain bangunan yang selaras dengan karakteristik unik lokasinya agar mampu meminimalisir risiko paparan bahaya lingkungan.

Menurut InHabitat, bangunan hijau merupakan anugerah tersendiri bagi sektor bisnis. Para pekerja di dalamnya lebih sehat dan produktif lantaran bermandikan cahaya alami, ventilasi, dan akses ke luar ruangan lebih mudah. Di bidang pendidikan, sekolah melaporkan nilai ujian yang lebih baik dan tingkat kehadiran yang tinggi dengan menerapkan konsep bangunan hijau.

Sistem Alamiah

Rancangan bangunan dengan sistem ini turut mendorong para penghuninya tetap sehat. Mereka mampu mengendalikan bangunannya, termasuk iklim ruangan dan akses ke luar ruangan. Hal ini juga turut meningkatkan produktivitas dan mengurangi stres.

Ventilasi alami sendiri mengurangi sindrom “Sick Building”. Adapun kipas angin terus menerus menghilangkan polutan dalam ruangan. Dikombinasikan dengan desain inovatif dalam hal dinding, pintu, dan jendela yang dapat dipindahkan memungkinkan terjadi ventilasi silang.

Ventilasi juga penting untuk mengurangi risiko kreacunan Radon dalam ruangan. Radon sendiri merupakan gas radioaktif bernomor atom 86 yang cukup berbahaya bagi kesehatan. Tidak ada lokasi yang aman dari Radon, tetapi ventilasi pada bangunan mengarahkan gas tersebut ke luar ruangan.

Aktivitas Fisik

Keberadaan ruangan untuk aktivitas fisik pada bangunan merupakan salah satu cara untuk mendorong para penghuninya melakukan gerakan. Majalah Arsitek menyebutnya sebagai “integrasi yang mendalam” antara bangunan dan aktivitas fisik yang mampu menginspirasi gerakan anatomis yang lebih organik.

Bagaimana pun, pekerjaan dan kehidupan manusia modern hanya seputar orang-orang yang diam di dalam bangunan. Peluang konsep kebugaran untuk diintegrasikan ke dalam rancangan bangunan membantu menggerakan penghuninya, baik di dalam maupun di luar ruangan.

Di luar ruangan, taman yang luas dan nyaman serta aman memberi kesempatan banyak orang untuk bergerak dan bermain. Sedangkan di dalam ruangan, cahaya alami yang berlimpah mampu mendorong orang-orang untuk beraktivitas di luar ruangan.

Desain bangunan yang melibatkan rancangan aktivitas fisik juga membantu meningkatkan hubungan sosial. Pada skala yang lebih luas, rancangan ini juga bisa menyatukan komunitas masyarakat dalam konteks lokal. Hal ini bisa dilihat dari masyarakat New Orleans paska terdampak badai katrina. Para perancang kota ditugaskan untuk membangun rumah-rumah yang dilengkapi beranda untuk orang-orang berkumpul.

Keamanan

Aspek yang satu ini meminimalkan risiko kecelakaan, cidera, dan kejahatan. Hal ini tampak dari rancangan bangunan yang lebih ergonomis, ambang pintu yang rendah, ruang aman, serta fitur keamanan fisik lainnya. Pencahayaan yang baik juga mampu mengurangi ketegangan mata dan kecelakaan fisik penghuni bangunan. Adapun rancangan lanskap bangunan membantu meminimalkan risiko kejahatan.

Faktor usia juga menjadi salah satu hal yang diperhitungkan dalam aspek keamanan. Semakin tua usia penghuninya, maka para desainer harus memberikan perhatian pada rancangan bangunan yang baik dan mudah diakses dengan aman. Terlebih, bangunan yang dirancang dengan mempertimbangkan tingkatan usia dan kemampuan fisik yang lebar mampu membuat nyaman semua orang.

Lingkungan Sensorik

Pada dasarnya, setiap manusia merespon sesuatu berdasarkan panca-indranya. Merancang bangunan yang nyaman bagi panca-indera membantu meningkatkan kesejahteraan psikis. Bagaimana pun, para penghuni bangunan senantiasa memilih warna dan rancangan bangunan berdasarkan kenyamanan panca-indra mereka masing-masing. Hal inilah yang membuat tren dekorasi berkembang, sehingga mampu menarik bagi indra manusia.***

0 Comments

No Comment.