Kinerja Berduka: Obituari untuk Aris Ika Nugrahanto

Pagi ini kami mendengar berita duka. Seorang motor di bidang efisiensi energi, Aris Ika Nugrahanto, dipanggil pulang menghadap-Nya. Kami sangat berduka.

Dalam arena efisiensi energi di Indonesia, beliau adalah orang yang tidak perlu diperkenalkan lagi. Boleh dibilang, semua orang kenal. Di Indonesia beliau identik dengan ISO 50001. Bertahun-tahun beliau menjadi koordinator proyek UNIDO dengan fokus manajemen energi, dan kemudian menjadi motor tim yang mengadopsi ISO 50001 menjadi standar nasional Indonesia.

Tidak banyak orang yang bisa meneruskan proyek yang diinisiasi oleh lembaga donor menjadi proyek komersial. Beliau adalah bagian dari sedikit orang yang berhasil membentuk entitas bisnis untuk melanjutkan proyek lembaga donor dalam skala komersial. Perusahaan yang dibentuknya dikenal sebagai provider training maupun consulting di bidang manajemen energi.

Saya tidak lama mengenal beliau. Kami selama dua tahun sering bertemu di Direktorat Konservasi Energi di Cikini, tempat proyek beliau berkantor. Beberapa kali kami berdiskusi serius mengenai kebijakan efisiensi energi di Indonesia.

Diskusi intensif justru terjadi ketika saya sudah jarang ke Cikini. Di tahun 2017, kami diminta untuk menjadi narasumber acara Konservasi Energi Goes to Campus. Beliau berbicara tentang efisiensi energi di sektor industri, saya untuk sektor bangunan. Kami bareng ke UGM, Brawijaya, Undip, ITS dan Lampung. Dalam beberapa hari itu, kami sering terlibat diskusi intensif ketika makan bersama.

Saya sempat curhat ke beliau tentang persepsi sebagian kalangan (auditor energi) terhadap audit sektor bangunan. Dalam pandangan kalangan ini, audit sektor industri adalah segalanya, susahnya minta ampun. Sebaliknya, audit sektor bangunan itu easy-piezy.

Saya meminta pendapat beliau sebagai panembahan auditor energi di sektor industri. Saya katakan, audit energi sektor bangunan itu jauh lebih sulit dibandingkan dengan industri.

Sure, sektor bangunan itu resikonya besar. Kalau sampai ada trouble, apalagi harus shutdown, maka proyeksi penghematan setahun bisa hilang dalam satu kejadian itu saja. Ditambah lagi dengan berbagai proses yang terjadi di industri, spektrumnya luas sekali.

Tapi sekali kita bisa berasumsi bahwa kita bisa mengontrol resiko, dan bisa paham teknologi prosesnya, maka rekomendasi yang dikeluarkan oleh audit energi sektor bangunan biasanya sederhana. Sederhana, dalam arti biasanya yang terjadi “hanya” ganti alat/komponen. Sederhana, dalam arti perhitungan penghematan energinya bisa pakai asumsi.

Di sektor bangunan tidak bisa begitu. Kalau mau mengutak-utik komponen sistem AC, maka mau tidak mau, seorang auditor harus melakukan analisis sistem. Apa kaitan jendela dengan chiller, atau dengan sistem pompa.

Di sektor industri, kita tidak bisa mengubah desain sistem, karena desain sistem biasanya terkait dengan sertifikasi produk. Terkadang, prosesnya dilindungi paten. Kalau mengutak-utik sistem, itu sama dengan bikin pabrik baru. Akhirnya, ya itu tadi, rekomendasi audit energi industri biasanya hanya berkisar pada ganti alat atau ganti komponen.

Beliau menimpali curhatan saya dengan cerita pengalaman beliau. Kalau mau, beliau sudah cukup secara finansial “hanya” dengan mengurusi steam trap untuk seluruh pabrik PT XXXX. Itu bisa membuatnya sibuk selama berbulan-bulan, bahkan tahunan. Penghematannya luar biasa besarnya, and every body is happy.

“Tapi kan saya tidak belajar apa-apa dari situ”, kurang lebih begitu kata beliau. Hanya steam trap. Tidak ada efek sistem yang harus dihitung, tidak ada perhitungan penghematan yang rumit-rumit.

Beliau selalu mencari tantangan yang lebih besar.

Dalam kesempatan lain beliau bertanya ke saya, kok kita tidak seperti Amerika ya kebijakan efisiensi energinya. Di Amerika, untuk setiap fase, mereka memilih untuk fokus pada satu komponen saja. Boiler, misalnya. Mereka fokus melakukan penghematan pada sistem boiler di semua sektor industri.

Boiler is a boiler, is a boiler, is a boiler. Boiler tetaplah boiler, di industri apapun yang memakainya. Industri kayu ataupun pembangkit listrik, kalau pakai boiler yaah pastilah teknologinya sama.

Di Indonesia kita tidak punya fokus itu. Padahal kalau kita mau menangani boiler saja selama satu dua tahun, hasil penghematannya akan amat sangat besar. Kenyataannya kita sekarang tidak tahu berapa perusahaan yang menggunakan boiler di Indonesia.

Padahal ada institusi pemerintah yang memegang data boiler, every single boiler, yaitu kementerian tenaga kerja. Karena semua instalasi boiler harus minta izin ke dinas ketenagakerjaan. Sayangnya, yang memegang data boiler bukanlah pihak yang menganggap penting penghematan energi. Padahal kalau ini kita pegang, berapa banyak pemborosan yang bisa kita hemat, demikian kesimpulan beliau.

Belum lagi masalah mengajar. Baselining dan kuantifikasi penghematan adalah hal yang cukup rumit untuk diajarkan. Tapi karena itu adalah hal yang penting dalam skema manajeman energi, maka beliau sangat bersemangat untuk mengajarkannya. Bagaimana menentukan baseline dengan melakukan normalisasi terhadap berbagai parameter.

Saya sangat iri melihat kiprah beliau di sektor industri, mengajarkan topik yang susah seperti itu pasti akan dicatat oleh Gusti Allah sebagai amal sholeh yang tak terputus.

Apalagi saya tahu persis bahwa di sektor bangunan yang saya tekkuni, kita sama sekali tidak punya baseline untuk menghitung penghematan energi. Kita bahkan tidak punya metodologi untuk melakukan normalisasi ataupun benchmarking.

===

Itu hanyalah sedikit contoh-contoh kegelisahan beliau. Selalu ingin yang terbaik untuk negeri kita.

Sugeng tindak, Mas Aris. Gelisah dan semangatmu akan selalu jadi inspirasi bagi kami. Semoga Allah menerima semua amalmu, dan mencatatnya sebagai kebaikan. Semoga perjalananmu selanjutnya dimudahkan oleh Allah

0 Comments

No Comment.