Perhatikan Radiasi Kaca

Radiasi adalah komponen kenyamanan termal yang paling sedikit dipahami. Bukan hanya oleh orang awam, tapi juga oleh perancang bangunan. Apalagi di Indonesia, kenyamanan termal seringkali direduksi menjadi temperatur dan kelembaban udara saja.

Artikel ini ingin menunjukkan bahwa radiasi adalah salah satu faktor penentu kenyamanan termal, bahkan mungkin lebih dominan dibandingkan dengan temperatur udara.

Pertama-tama yang harus diingat adalah bahwa pertukaran panas antara manusia dengan lingkungannya terjadi dalam empat mode: (1) konduksi, (2) konveksi, (3) radiasi, (4) evaporasi. Itu dalam urutan dari yang terkecil ke terbesar.

Masalahnya, ketika kita berbicara kenyamanan termal, biasanya yang kita sebut adalah suhu ruangan, yang nota bene mengatur perpindahan panas secara konveksi. Padahal ada radiasi yang komponennya lebih besar dari konveksi.

Radiasi adalah perpindahan panas yang terjadi akibat adanya perbedaan suhu permukaan dari dua obyek. Suhu permukaan ya, bukan suhu udara. Setiap ada permukaan (dinding, atap, lantai, atau obyek lainnya) yang berbeda dengan suhu kulit manusia, maka otomatis akan terjadi perpindahan panas radiasi. Masalah kulit manusia tidak bisa merasakan panasnya (karena terlalu kecil), itu lain masalah. Yang jelas, ketika terjadi perbedaan suhu, maka perpindahan panas radiasi juga akan langsung terjadi.

Ini bukan masalah radiasi matahari, baik langsung maupun difus. Masalah radiasi matahari sudah cukup dipahami oleh arsitek dan tukang AC, sehingga masalahnya bisa dihindari (oleh arsitek) atau diatasi agar AC tidak boros (oleh tukang AC).

Yang menjadi masalah adalah radiasi sekunder, yaitu permukaan yang suhunya meningkat, sehingga menjadi sumber radiasi bagi ruangan. Contohnya adalah kaca.

Gambar berikut menunjukkan model sebuah kafe yang biasa terdapat di lobby bangunan tinggi. Dalam model ini, semua dinding adalah fully glazed. Dua sisi terekspose udara luar, dua sisi berbatasan dengan bagian dalam bangunan.

Kafe tersebut disimulasikan dengan menggunakan AC, suhu ruangan pada 24C. Dua jenis kaca disimulasikan, dan hasilnya ada di bagian bawah gambar.

Perhatikan baik-baik bahwa suhu ruangan dalam kedua skenario adalah sama, yaitu 24C. Dengan suhu ruangan yang 24C, ternyata suhu operatif di dalam ruangan sangat tinggi, terutama di sekitar kaca. Dalam kasus single glazing, suhu operatif mencapai 40C, sementara untuk kasus double glazed, suhu operatif turun ke 35C. Ada perbedaan 5C dalam suhu operatif.

Dari uji coba sederhana di atas, dapat dilihat bahwa pemilihan kaca yang salah, akan mengakibatkan turunnya NLA (nett leasable area), karena tidak ada karyawan yang mau duduk di sekitar kaca yang panas itu.

Silakan kontak kami untuk diskusi lebih lanjut tentang masalah ini.

2 Comments
Avatar for Kinerja
Vincent 1 August 2019
| |

Double Glazing Unit system memang jauh lebih baik dalam menghalau panas. Asahi, merek kaca terbaik di Dunia memiliki produk Stopray (Double Glazed Low-E) dengan performance yang sangat baik. Dengan menghalau panas, secara tidak langsung dapat mengurangi pemakaian energy AC. Recommended! 

Avatar for Kinerja
Saitama 31 July 2019
| |