Polusi Udara dalam Ruangan Sebabkan 300 Ribu Lebih Kasus Kematian Bayi di Dunia

Ilustrasi (Foto: Josh Willink – pexels)

Polusi udara menyebabkan kematian dini hampir setengah juga bayi pada bulan pertama kehidupan mereka. Hampir dua per tiga kasus tersebut atau lebih dari 300 ribu kasus terjadi akibat polusi udara di dalam ruangan. Umumnya, sebagian besar kasus tersebut terjadi di negara-negara berkembang di dunia.

Demikian laporan State of Global Air 2020 yang disadur dari The Guardian. Laporan ini memeriksa data kematian dari seluruh dunia terkait dengan polusi udara dan hubungannya dengan masalah kesehatan. Laporan ini diterbitkan oleh Health Effect Institute yang merupakan organisasi penelitian nirlaba independen yang didanai oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat.

Lebih lanjut, paparan polutan ini juga berbahaya bagi bayi dalam kandungan. Akibatnya, bayi-bayi yang lahir mengalami prematur atau berat badan lahir yang rendah. Hal ini pula lah yang menjadi penyebab kematian bayi akibat polusi udara.

Katherine Walker, ilmuwan dari Health Effects Institute yang menerbitkan laporan tersebut, menyatakan bahwa mereka tidak memahami mekanisme kasus ini. Namun, mereka melihat ada hubungan antara polusi udara dengan kasus penurunan pertumbuhan bayi. “Ada hubungan epidemiologis yang ditampilkan di berbagai negara dalam berbagai penelitian,” ungkap Katherine.

Lebih lanjut, bayi yang lahir dengan berat badan yang rendah lebih rentan terhadap infeksi masa kanak-kanak, termasuk pneumonia. Bagaimana pun, paru-paru bayi prematur belum mampu berkembang secara sempurna.

Beate Ritz, profesor epidemiologi dari Universitas California, Los Angeles, menyatakan bahwa polusi udara dalam ruangan di kota-kota di India, Asia Tenggara, dan Afrika sebanding dengan London pada 150 tahun yang lalu. Kala itu, terjadi berbagai polusi udara akibat revolusi Industri. Hanya saja, polusi udara dalam ruangan sendiri belum menjadi yang terdepan bagi pembuat kebijakan.

Beate juga menunjukkan bahwa polusi ini juga bisa menyebabkan kerusakan pada otak dan organ lain. Menurutnya, bertahan hidup saja tidak cukup. “Kita perlu mengurangi polusi udara karena dampaknya yang besar pada semua organ vital manusia,” ujarnya.

Efek polusi udara ini sebenarnya sudah ada selama berabad-abad lamanya. Hanya saja, selama ini kita tidak menyadarinya. Namun, masalahnya kini diperparah oleh kepadatan penduduk di banyak kota berkembang ditambah dengan polusi udara luar ruang dari kendaraan dan proses industri.

Anugerah COVID19

Laporan ini mengambil data sepanjang tahun 2019 dan tidak termasuk kebijakan lockdown akibat COVID19 di seluruh dunia pada tahun 2020. Wabah ini tentunya berdampak pada kualitas udara dan kematian akibat polusi udara, tetapi belum terlihat jelas dampaknya.

Dan Greenbaum, Presiden Institut Dampak Kesehatan Amerika Serikat, menyatakan bahwa dampak pembatasan aktivitas akibat COVID19 menguntungkan secara jangka panjang bagi kesehatan dan polusi udara. Hal ini sudah mengubah persepsi kualitas udara kepada banyak orang. Mereka menyadari tentang langit biru yang indah. “Meskipun tidak bertahan lama, tetapi kondisi ini menunjukkan kemungkinan untuk mendapatkan kualitas udara yang bersih,” ungkap Greenbaum.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang terpapar polusi udara memiliki risiko kematian yang lebih tinggi akibat COVID19. Meskipun demikian, kesimpulan ini baru temuan awal saja. Greenbaum menyatakan bahwa masih perlu banyak penelitian untuk mengeksplorasi dampak akibat polusi udara.

Secara jangka panjang, polusi udara sendiri sudah mengakibatkan 6,7 juta kematian di seluruh dunia pada 2019. Pasalnya, polusi udara turut meningkatkan risiko serangan jantung, diabetes, kanker paru-paru, dan penyakit pernafasan kronis lainnya. Saat ini, polusi udara menjadi penyebab kematian keempat tertinggi di dunia secara global. Angka ini tepat di bawah merokok dan pola makan yang buruk.***

0 Comments

No Comment.