Sehat Gedungnya, Produktif Penghuninya

Ilustrasi (Photo by Lucas Pezeta in Pexels)

Seperti halnya manusia, bangunan pun bisa mengalami sakit. Tentunya, penghuni bangunan jenis ini pun akan terganggu kenyamanan dan rasa amannya. Dampak paling parah, bangunan yang sakit juga bisa menular kepada orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Dilansir dari National Geographic, penyakit pada bangunan umumnya berupa kelembaban dan jamur. Pada tingkatan tertentu, pengobatannya pun cukup mudah: menambah ventilasi. Hanya saja, bila memang konstruksi bangunan buruk, obat mujarab dan ringan seperti ventilasi pun tak akan mampu mengatasinya.

Dengan demikian, bangunan yang optimal untuk kesehatan manusia sejak awal mampu menghemat segalanya. Bangunan sehat tentunya akan menekan biaya untuk perbaikan dan renovasi pada masa yang akan datang. Terlebih, manusia di dalamnya juga akan selalu sehat dan meminimalisir biaya untuk berobat dan berkunjung ke rumah sakit.

Joseph Allen, seorang peneliti kesehatan masyarakat dari Universitas Harvad, menyelidiki ratusan bangunan sakit di Amerika Serikat. Menurutnya, pengelola bangunan memainkan peran yang sama pentingnya dengan dokter dalam hal kesehatan penghuninya. Dia mencontohkan dengan kebersihan sekolah yang berdampak besar pada kesehatan warga di dalamnya.

Statistik dari sejumlah penelitian menyebutkan rata-rata orang menghabiskan 90 persen waktunya di dalam ruangan. Ironisnya, udara di dalam ruangan rata-rata dua hingga lima kali lipat lebih beracun dibandingkan udara luar ruang. Selain karena ventilasi yang buruk, tingkat racun di udara dalam ruangan yang tinggi ini disebabkan juga oleh gas beracun dari sejumlah produk interior, mulai dari karpet hingga furnitur.

Pada beberapa dekade terakhir, gerakan Bangunan Hijau (green building) mulai berkembang di dunia. Gerakan ini memfokuskan dirinya pada penghematan air dan energi pada sebuah bangunan. Fokus ini merupakan pendekatan holistik agar masyarakat dunia sadar bahwa sebuah bangunan sangat mempengaruhi orang-orang di dalamnya.

Pada tahapan tertentu, gerakan ini juga mengkampanyekan aspek yang lebih luas dari bangunan, mulai dari peningkatan kualitas udara di dalam ruangan hingga tingkat aktivitas penghuni gedung yang semakin tinggi. Mereka mendaftar berbagai aspek teknis dalam bangunan, seperti: kualitas air yang lebih baik, rendahnya kadar kebisingan, pengaturan suhu, serta maksimalisasi cahaya dalam ruangan.

Tentunya, manfaatnya sepadan dengan usaha kita memaksimalkan fungsi gedung. Banyak penelitian yang mendokumentasikan pengaruh positif dari bangunan sehat. Misalnya saja: tingkat produktivitas yang lebih tinggi, nilai ujian siswa yang lebih baik, dan kepuasan tempat kerja yang lebih besar. Dengan demikian, bangunan yang nyaman dan sehat, maka terciptalah masyarakat yang produktif dan bahagia.

Awalnya, para pengelola properti tidak menganggap kesehatan dan keselamatan sebagai bagian yang penting, khususnya dalam skema anggaran. Namun, hal tersebut perlahan-lahan berubah. Didukung oleh penelitian ilmiah yang mulai banyak dan berkembang, gerakan bangunan sehat mulai banyak para profesional di bidang properti yang memperhatikan kesehatan bangunan.

Bagaimana dengan kita? Sudah sehatkah bangunan yang kita huni?***

0 Comments

No Comment.