Sick Building Syndrome

Pernahkah anda merasakan lelah, atau iritasi pada mata, hidung, maupun tenggorokan, ataupun pusing dan mual saat bekerja di kantor? Padahal hari itu adalah hari yang biasa saja dalam keseharian anda, dan anda merasa sehat saat berangkat ke kantor di awal hari. Bila anda pernah, mungkin anda mengalami Sick Building Syndrome.

Sick building syndrome yang disingkat SBS, adalah sindroma gedung sakit di mana penghuni gedung mengalami gejala-gejala atau keluhan-keluhan yang tidak spesifik. Kejadian ini terjadi bukan karena hanyalah suatu faktor, namun akumulasi dari berbagai faktor yang ada pada bangunan yang ditempati, yaitu faktor fisis, kimiawi, biologis, serta fisiologis.

Contoh tanda pemberitahuan Sick Building Syndrom

Saat pertama kali mewabah, penyebab SBS tidaklah diketahui, namun seiring dengan waktu, para peneliti telah menemukan bahwa penyebab dari munculnya SBS adalah bangunan itu sendiri, namun hingga saat ini, peneliti masih belum bisa menunjuk penyebab tepat dari sindroma tersebut. Walaupun begitu, faktor yang dipercaya paling berhubungan dengan SBS adalah masalah-masalah ambient atau lingkungan sekitar di dalam gedung, dan salah satu dari masalah tersebut adalah kelembapan pada bangunan. Kelembapan berlebihan pada sebuah bangunan, yang dapat berasal dari meningkatnya kadar air di udara melalui infiltrasi, serta kondensasi di dalam bangunan itu sendiri. Hal ini dapat menstimulasi munculnya penyakit-penyakit pernapasan seperti asma. Tetapi, berbagai faktor lain juga dapat berkontribusi hingga menyebabkan munculnyna SBS, dimulai dari temperatur, tingkat pencahayaan, keributan, kualitas udara, kesehatan fisik penghuni, hingga keadaan psikososial penghuni itu sendiri.

Muncul dan mewabahnya SBS, tidak hanya menurunkan kesehatan penghuni, tetapi juga akan mengurangi efektifitas dan efisiensi kerja dari penghuni, yang lalu akan menyebabkan menurunnya produksi maupun produktifitas dari penghuni.

Lalu bagaimanakah kita dapat menangani SBS? Solusi terhadap SBS dapat dikategorikan menjadi empat tingkat:

  1. Kurang efektif dan sederhana, seperti:
    • Pembersihan rutin bangunan
    • Pembersihan dan perbaikan HVAC
    • Larangan merokok
  2. Kurang efektif dan tidak sederhana, seperti:
    • Peningkatan kesadaran masyarakat
    • Sertifikasi bangunan hijau
  3. Lebih efektif dan sederhana, seperti:
    • Pengunaan jendela yang dapat dibuka
    • Penambahan tanaman dalam ruangan
  4. Lebih efektif dan tidak sederhana, seperti:
    • Sistem pengendalian kualitas udara dalam ruang yang canggih
    • Intergasi sistem ventilasi yang canggih
    • Pengurangan kelembapan dan lumut secara keseluruhan

Maka dari itu, bila anda mengalami gejala-gejala diatas saat di kantor, mungkin anda sedang mengalami SBS, coba telusuri kembali unsur apa dari bangunan tersebut yang membuat anda tidak nyaman bekerja, atau apakah ada perubahan dalam lingkungan kantor anda seperti udara yang lebih panas/dingin, udara yang lebih lembab, maupun lampu yang terlalu terang/gelap. Langkah yang terbaik yang dapat anda lakukan adalah istirahat, lalu mencari udara segar di luar bangunan, dan lalu kontak pengelola bangunan anda mengenai keluhan atau perubahan yang anda alami, agar pengelola dapat sumber-sumber potensial dari SBS, dan lalu menanganinya.

Sumber:

  1. http://mji.ui.ac.id/journal/index.php/mji/article/view/61/60
  2. https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00038628.2018.1461060
1 Comments
Avatar for Kinerja
Kualitas udara Indonesia – Kinerja 1 August 2019
| |

[…] langsung terhadap timbulnya penyakit pada penghuni, dimulai dari asma hingga sindrom SBS (https://www.kinerja.org/b/sick-building-syndrome/), serta mengurangi produktifitas dan efisiensi kerja […]