Megah, Tapi Panas: Kenyamanan Termal sebagai Kriteria Kinerja Masjid

Kenyaman termal adalah kebutuhan semua orang, apapun aktivitasnya. Sayangnya, perancangan kenyamanan termal adalah hal yang paling jarang dilakukan dalam perancangan bangunan. Alih-alih “by design”, kondisi kenyamanan termal bangunan hampir selalu merupakan kondisi “by chance” atau “by accident”.

Apalagi bangunan masjid, yang merupakan bangunan sosial, artinya biasanya dibangun dengan budget seadanya. Perancangan kenyamanan termal hampir tidak pernah terdengar. Kita biasanya mendapatkan bangunan masjid yang megah, tapi hangat.

Kuliah ini akan membahas teori kenyamanan termal sebagai basis perancangan masjid. Sebagai contoh kasus akan dibahas dua masjid dengan kondisi yang berbeda. Pertama adalah Masjid Istiqlal, mewakili masjid yang tidak menggunakan AC. Kondisi kenyamanan termalnya akan dibahas berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan tahun 2019. Kedua adalah Masjid Salman Rasyidi, yang berada di kompleks RS Salman Hospital, Soreang, Bandung, yang mewakili masjid dengan AC yang hemat dan nyaman. Di masjid tersebut, sistem displacement ventilation digunakan untuk mendistribusikan udara dingin dengan cara yang lebih efisien dibandingkan sistem AC konvensional.